Suatu hari nanti

“ Dasar anak teroris! Pergi kamu dari sini !!! jangan dekati anakku!!” ujar seorang ibu gemuk
Aku terdiam, mengalir perlahan buliran air dari mataku,
“ YA Allah apa salahku?”
Sepanajang aku menelusuri jalan menuju rumah, aku berpapasan orang yang sellau tersenyum sini s menatapku.
“ Dasar anak teroris!!”
Air mataku kembali mengalir1 kenapa kata-kata itu selalu terdengar olehku!
Bahkan tak segan-segan temanku yang dulu selalu bermain bersama denganku dengan sengaja melempar kerikil ke arahku
“ Kenapa kalian melempar aku dengan kerikil?”
“ Karena kamu  anak teroris!”
“ Apa kamu tak mau bertean lagi denganku?”
“ Orang tuaku menyuruhku utnuk menjauhimu, karena ayahmu telah membunuh banyak orang!”
Aku berlari menuju rumahku
Ibu melihatku menangis segera memlukku dengan penuh kelembutan
“ Ada apa? Kenapa kamu menangis Sani?”
Aku terdiam aku memeluk erat tubuh ibu
“ Apa kamu berantem dengan temanmu?” aku menggeleng
“ Apakah ayah teroris bu?” ujarku pelan
Ibu tersentak kupandangi wajahnya yang penuh dengan goretan penderitaan itu menangis.
“ Apakah ayah teroris bu?” ujarku sekali lagi namun ibuku terdiam dalam tangisnya dan ia berlari menuju kamarnya
“ Sani ada apa? Kenapa Ibu menangis?”
Aku tak mampu menjelaskan kepada kak Zahra
“ Apa kamu bandel hingga ibu menangis sepeti itu?”
“ Apa ayah teroris kak?”
Kak Zahra terdiam memandang lekat tubuhku. Matanya tajam tak berkedip
“ Siapa yang mengatakan itu?”
“ Semua temanku kak? Bahkan orang tua mereka, menyuruh mereka tidak berteman lagi denganku!”
“ Jangan hiraukan kata mereka?”
“ Apa ayah seorang teroris kak?”
“ Apa ayah seorang teroris kak?” kuulangi pertanyaanku
“ Kenapa ayah meninggal? Kenapa aku tak pernah bertemu ayah?”
“ Kelak kau akan tahu yang sesungguhnya. “
“ Aku mau sekarang!”
Ku tatap mata kak Zahra, air matanya tak dapat terbendung lagi.  Ia berlari meuju kamarnya dan membawa sepucuk kertas lusuh
Assallammualaikum wr.wb
Umi, Zahra, dan Sani
Maafkan  ayah disaat lebaran ini ayah tak bisa bersama kalian, ayah sedang berjuang menegakkan panji-panji islam walaupun harus dibalik jeruji besi. Ayah berharap tak aka nada lagi air mata eksedihan, hanya tersisa air mata bahgia.. percayalah kelak kita kan dipersatukan di surga nanti…
Besok eksekusi tembak akan ayah jalani.
Ku mohon, umi… peracayalah pada ayah bahwa ayah hanya terkena fitnah keji. Ayah dituduh membawa bom, sungguh demi Allah ayah tak pernah menyimpan bom itu. Suatu hari ayah dititipi tas oleh seorang lelaki yang tak ayah kenal, ayah dengan senang hati membwakan tas orang itu, lelaki itu pamit kepada ayah untuk sebentar membeli minuman, tiba-tiba saja ada segerombolan polisi yang mengeledah tas pria itu. Ayah sungguh terkejut ternyata dalam tas itu berisi bom, ayah diseret oleh segerombolan polisi itu dengan biadab.. di kantor polisi ayah ditanyai tentang bom yang ada dalam tas pria itu.. ayah tak mengerti  harus menjawab apa?
Hingga 5 bulan ayah di penjara, ayah dituduh menjadi anggota teroris yang telah meresahkan warga. Dan ayah dijatuhi hukuman mati. Ayah menerima keputusan itu dengan ikhlas walaupun sebenarnya ayah tak melakukannya…
Jangan ada dendam kepada polisi yang akan mengeksekusi ayah.
Ayah ikhlas… percayalah dibalik semua ini aka nada kebahagiaan yang kekal di surga nanti……………..
Ayah, tunggu kami, kmai kan segera menyusulmu di surga

                                                                                                                                15 Apr. 13

0 Komentar