Mr. Glamour



Aku punya teman yang hobi banget bei varang yang brandit. Semua distro ia kenal, semua bmerk baju,tas sepatu yang mahal ia kenal juga.
“Hai Guys…. kemarin aku beli sandal crocks harganya mahal banget?”
“ wuihh,, lagi banyak duit nih? Emang harganya berapa?” tanyaku antusias
“ 150 ribu?”
“ 150 buat sandal gituan? Kalau di pasar ma sandal kayaj gitu harganya 19 ribu.” Ujarku polos
“ ih dasar Bian, kamu tuh kampungan banget sih?”
Aku terdiam,…. Emang gue pikirin batinku
Keesokan harinya
“ Hay Guys, kemarin aku tuh beli baju cressida, mahal lho Bo’
“ Kres.. kres apa?
“Dasar Bian norak masak nyebut Cressida aja sampai belepotan gitu?”
Hehe
Tas kamu keren deh? Berapa harganya?
“ 890 ribu aja kok? Murah?
“Hah? Segitu murah, kalau beli di pasar dapet 100 biji kali”
“Haa? Ini kan keluaran Macbeth “
“mebet? “
“Mac..beth tau akh kamu tuh norak banget!!”
Emang gaul itu semua barangnya harus berkelas ya” ujarku polos
“ Ya iyalah, tingkat high class seseorang tuh ditentuin dari barang yang ia pakai? You understand?”
“ Ooo...........?” ujarku ger ooo panjang
Aku juga punya pacar namanya, Faid
Suatu ketika saat aku jalan ma dia..
“ kenapa kamu pakai baju kampungan kayak gitu. Kamu bikin malu aja!”
“ emang kenapa kalau aku pakai baju yang aku beli di pasar?”
“ ya kampungan lah, sekarang udah abad 21 masih aja pakai baju norak kayak gigtu…”
“Tapi aku suka. Aku lebih mencintai produk dalam negeri, kualitasnya juga ga jelek-jelek amat kok?” Kataku membela
“Kamu tahu butik kan? Kamu tahu kan distro…”
“ Apa sih salahnya kalau kita beli di pasar, kalau kita beli di pasar, membawakebaikan bagi penjualnya. Coba kalau kamu beli di mall di diis.. dis apalah itu, uang yang kamu berikan utnuk kepentingan bangsa asing. Kamu peduli dikit dong dengan rakyat kecil?”
“ Bodo amat! Pikiran kamu tuh kayak pahlawan aja, kamu tuh hidup di abad 21, sadar dong kita tuh dah masuk globalisasi. Kamu tahu kan artinya?”
“ Udahlah, Id? Sepertinya kita memang berbeda, sungguh jauh berbeda. Hanya gara-gara merek dan baju kita jadi ribut, kita punya kehidupan masing-masing yang tak bisa menjadi satu. Kuta ibarat air dan minyak, selamanya tak mungkin bersatu.. aku untuk hidupku dan kamu, terserah bagaimana dengan kehidupanmu. Aku ga caramu perlakuin karena kamu hanya menjadikan aku sebagai wanita menilai seseorang hanya dengan harga. maafkan aku...?”



22 April 13

0 Komentar