Jangan
menangis , Kawan
“ Kenapa matamu
sembab, Ra? “ Tanya Kanya seraya duduk di sebelah Ara. Ara terdiam dan kembali
menitikan air matanya.
“ Masalah Vino
lagi?” Ara mengangguk
Gubbrrraakkzz
Kanya mengebrak
meja dengan penuh rasa amarah.
“ Untuk apa kau
tangisi laki –laki macam dia. Ha?”
“ Tapi aku
mencintainya, Kan?”
“ Kau memang
bodoh, Ra? Itu yang kau namakan cinta?”
“ Kau tak tahu
apapun tentang perasaanku, Kan? Aku tak bisa melupakan Vino sampai kapanpun. Karena
Aku sangat teramat mencintainya.” Bela Ara
“ Terserah apa
katamu! Aku bosan melihat kau menangis karena lelaki brengsek itu. Aku bosan
setiap hari harus mengoceh! Aku bosan setiap hari melihat bekas tamparan Vino
di pipimu. Aku bosan melihat sahabat ku setiap hari mearasa sedih! kau memang tak tahu dinasehati, Ra? Sekarang
kau pilih Vino atau aku?”
` “ Maaf, Kan?
Cintaku pada Vino terlalu dalam. Maaf aku memilih Vino.” Dengan geram Kanya
meninggalkan Ara yang sudah tertutup pintu hatinya. Bahkan teganya ia
memutuskan persahabatan yang telah dibangun dengannya.
“ Okey, Ra! Tapi ingat
sampai kapanpun aku kan selalu menganggap mu sebagai sahabat terbaik yang
perrnah aku miliki.”
Kini pertemanan
antara Kanya dan Ara tiada lagi.
Saat Ara berjalan menuju kantin untuk mencari Vino.
Ia melihat Vino berjalan dengan seorang gadis yang tak kalah cantik dengan Ara.
“ Vino. Tunggu!!”
Vino berhenti. Sepertinya mengenali
suara itu. Dan saat membalikkan badan, ia dapati Ara yang berdiri menatapnya
tajam.
“ Vino, siapa dia?” tunjuk Ara pada gadis yang
berjalan dengan Vino.
“ Dia, pacarku!
Kenapa? Masalah buat kamu?” jawab Vino ketus
“ Vino, teganya
kau? Aku ini pacarmu! Apa kau tak ingat itu, Hah?”
“ Hahaha, kau
terlalu polos, Ra? Apa kamu tak sadar selama ini aku tak pernah mencintaimu
sedikitpun. Aku hanya menjadikanmu cewek taruhan. Dan ternyata dengan mudahnya
aku mendapatkanmu. Kau sangat murahan. Dan
sekarang aku sudah bosan dengan sikapmu. Pergi sana!”
BLEDEGGG
Ara tercengang dengan kata-kata yang keluar dari
mulut Vino orang yang begitu ia sayangI. ia merasa ribuan tawon yang menyengatnya.
“ Kau biadab, Vin? Kau lelaki brengsek. Teganya
kau. Aku tulus mencintaimu namun kau balas rasa cintaku dengan kehinaan.” Vino
mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan melemparkannya ke arah wajah
Ara.
“ Nih, uang taruhannya. Ku kembalkan lagi padamu.”
Ara gondok menahan marah
“ Sebegitu rendah kau pandang aku, Vin? Vino… Vino…
dengerin aku. Aku mencintaimu.” Namun sayang Vino berlalu meninggalkannya
menjauh.
“ Sekarang kau tahu kan bagaimana Vino
sesungguhnya.”Ara menoleh ternyata kanya yang tadi ngomong. Ara segera memeluk
Kanya.
“ Kau benar, Kan? Maafkan aku? Aku terlalu bodoh,
mata hatiku telah tertutup oleh kegelapan cinta Vino. Maafkan aku, Kan?” sesal
Ara
“ Sudahlah, Ra? Hapus air matamu, kawan! Yang lalu
biarlah berlalu kau harus kuat. Buktikan padanya bahwa kau bisa hidup tanpa
dia. Ayo kita ke kantin. Aku traktir deh untuk merayakan hari kemerdekaan!”
“ Kemerdekaan apa? Apa ini tanggal 17 agustus ?”
“ Dasar lemot. Kemerdekaan karena kau telah
terbebas dari belenggu si brengsek itu.”
“ Hahaha, akh kau ini.”
Yah.. terkadang kesendirian kan membawa kita pada
arus kebahagiaan. Dan harus kita sadari sahabat kan selalu ada disaat
keterpurukan menghampiri kita. Sahabat kan membuat kita selalu tersenyum dan
merasa berarti hidup di dunia ini……
26
February 2012
0 Komentar