jam tangan untuk bapak

                              Jam Tangan Cinta Untuk Bapak
“ Jam berapa sekarang, Pak?”
“ Maaf jam saya mati.”
Berulang kali kalimat itu terulang. Aku sebagai anak Bapak merasa prihatin. Jam tangan yang dikenakan  Bapakku mati.
Bapak adalah satu-satunya orang tua yang masih kumiliki. Emakku meninggal saat melahirkanku, aku tahu betul Bapak sangat mencintai emakku, bahkan sampai sekarangpun Bapak belum ikhlas dengan kepergian emakku, Bapak suka mengurung diri di kamar seraya memandangi foto emak.  
“ Kenapa Bapak selalu memakai jam kuno itu. Lagi pula jam itu sudah mati pak?”
“ BIarlah, bapak masih suka jam ini.” bEla bapak
“ Tapi, Pak? Apa bapak ndak malu pake jam tangan mati gitu.”
“ Udahlah jangan gubris omongan orang lain.”
“ Pak, apa perlu Aku minta pada mas Seno untuk membelikan bapak jam tangan baru?”
“ Sudahlah, masmu tak peduli lagi dengan bapak. Berapa tahun dia tak menelpon bapak. Tak rindukah ia dengan bapaknya yang tua renta ini?”
“ Mas Seno sibuk, Pak? “
“ Sibuk tapi kenapa tak pernah kirim uang. Bapak tahu, Ra? Kamu  berjuang, tiap hari nulis cerpen buat makan kita. Bapak merasa kasihan sama kamu. Kamu harus terhenti kuliah hanya tak ada biaya. Bapak merasa tak bisa membahagiakanmu, Nak?”
“ Udahlah pak? Bapak pasti bangga mempunyai anak seperti Mas seno yang sukses.”
“ Huh………” bapak pergi meninggalkanku dengan langkah berat. Sungguh aku tahu bagaimana perasaan Bapak, ia rindu betul dengan anak lelakinya itu.
                     KRIIIINNNNNGGGGGGGG
“ Hallo mas seno?”
“ ada apa? Aku sangat sibuk! Kalau gak ada yang penting ga usah nelpon!”
“ Tapi bapak ingin bicara mas?” Bapak segera menyahut handphone ku
“ Seno, kapan kau pulang? Bapak rindu sekali sama kamu, Nak?
“ Aku sibuk, Pak? Ga ada waktu?”
“ 5 menit saja bapak mohon, bapak ingin bertemu kamu.  Bapak pengin jam tangan emas nak? Seperti yang ada di TV-TV itu.”
“ Ga usah banyak gaya deh , Pak? Jam gitu mahal. Aku ga ada uang. Sudah pak. Aku sibuk!”
       TUUUUUUTTTTUUUUUUUTTT
“ Bagaimana pak? Kapan mas seno pulang?” Bapak mengangkat bahunya tanda tak mengerti
“ Seno sibuk. Tak ada waktu untuk kemari” ku lihat bias kekecewaan pada wajah bapak yang mulai keriput itu.
“ Jam ini jam pemberian ibumu, satu-satunya harta yang Bapak miliki. Saat itu tanggal 22 Juni 1989 tepat jam ini 11:17 kau dilahirkan di bumi ini, namun sungguh tragis nasibmu. Tepat setelah tangis  pertamamu terdengar, dan saat itu pula rumah tempat kau dilahirkan  terbakar. Emakmu berusaha unntuk menyelamatkanmu dari kobaran api. Namun sungguh sayang. Nyawa emakmu tak dapat tertolong lagi. Semuanya hancur musnah tak tersisa, jam tangan inilah satu-satunya kenangan antara Bapak dan emak. Walau mati, namun bapak sayang sama jam ini?”
“ Bapak gak boleh terus-terusan bersedih. Bpaak harus bisa melupakan semua kenangan kelam itu, Pak?”
“Aku harus bisa membuat bapak meupankan lkenangan buruk tentang emak. Aku tahu pasti berat untuk bapak. “ batinku
*       
“ Berapa harga jam tangan yang berlapis emas itu?” tanyaku pada pemilik toko emas
“ 2.5 juta? Mau beli? Kalau Cuma lihat aja, mending pergi sana deh?”
“Dari mana aku mendapat uang sebanyak itu” gumamku, akhirya ku tepiskan rasa Maluku, demi bapak aku rela berhutang pada temanku.
“ Boleh aku pinjam uang?”
“ Untuk apa? Tumben kamu mau pinjam uang?”
“ Iya, kebutuhan mendesak. Kalau kau punya, aku ingin meminjam 2.5 juta.”
“ Hah? Banyak banget.
“ Iya, aku butuh sekarang.!”
“ Maaf, ra aku lagi ga punya uang!”
“ Iya, gapapa!” kataku dengan nada kecewa dengan diiringi hembusan nafas berat
       Terpaksa demi melihat bapak tak bersedih lagi, aku jual laptop kesayanganku yang selalu menemani hari-hariku. Maafkan aku pak aku jual mata pencaharian ku pak?
       Saat pulang ke rumah aku segera berlari-lari berteriak memanggil Bapak
       “ Bapppppaaaaak…..!!”
       Ku dapati Bapak tengah merenung di kamar sembari memandangi foto emak yang sudah lusuh dan sedikit dimakan rayap.
       “ Bapak! Ini aku bawain sesuatu untuk bapak?”
       “ Apa ini?”
       “ Buka aja!”
       Dan dengan perlahan-lahan bapak  membuka kertas kado itu, betapa gembiranya aku melihat rona wajah bahagia bapak saat aku memberinya kado berupa sebuah jam tangan.
       “ Jangan lihat harganya, tapi lihat siapa yang ngasih ya, Pak? Hehe!”
Tak pernah ku lihat sebelumnhya bapak menitikan air matanya dan menatap dalam ke arahku.
       “ Makasih ya, Nak! Hanya kau yang mengerti Bapak! Akan bapak pake jam tangan ini sampai bapak nantti mati.”
Keesokan harinya
       “ Alhamdulilah bapak begitu nyenyak tidurnya, ya ampyun jam tangan pemberianku dipakai bapak ketika tidur!
       “ Bapak, dah siang. Maura dah siapin sarapan kesukaan bapak, Ayo pak bangun!”
       Perlahan-lahan ku goncangkan tangan bapak, namun kenapa tangan bapak terasa sangat dingin dari biasanya. Dan tak kurasakan denyut nadi bapak. Ya Tuhan, kenapa dengan bapakku!
       “ BAAAAAAAAPPPPPPPAAAAAAAAAAAKKK, kau penuhi janjimu bahwa kau kan memakai jam tang an pemberian ku hingga ajal menjemputmu, oh bapakku…!”
Dan kudapati selemar surat yang masih bapak genggam erat, perlahan-lahan ku baca
       Terima kasih Maura
Sungguh mulia hatimu, kau sellau ingin bahagiakan bapakmu ini, bapak tahu, kau menjual laptopmu untuk membelikan bapak jam tangan ini. Hanya ini yang bapak pinta sebelum Bapak kembali ke pangkuan Tuhan, maafkan bapak yang belum bisa membahagiakanmu, Nak!”




                                                       13 Maret 2012

0 Komentar