
Ku pegang batu nisan itu. Vellys Akeisha. Tulisan lebih menjorok binti
Hamid. Baris ketiga lahir 11 februari 1988 wafat 10 februari 2009. Oh… Ingin
aku berteriak sekeras-kerasnya. Vellys! Orang yang amat ku cinta tlah pergi tuk
slama–lamnya. Tak terasa olehku lelehan air mata mulai membasahi pipiku. Aku
tak tahu mengapa Vellys tega membiarkanku sendiri… Ah.. andai boleh aku
meminta, aku ingin sekali….! Mengundur kematiannya.. Betapa malang Vellys..
Sehari sebelum genap berumur 18 tahun, Dia harus meninggalkan orang-orang yang
menyayanginya.
Hujan
Rintik-rintik, langit mulai kelabu, Senja yang damai menghampiriku. aku bergegas meninggalkan pemakaman ini..
Sampai di jalan, hujan telah membasahiku.. Aku berlari menuju rumah. Tapi..
Bruk..! aku terpeleset air hujan. Kepalaku terasa semakin pening. Ku rasakan
dinginnya air hujan mulai menyentuh kulitku. Badanku pucat lemah tak berdaya.
Ku paksakan tuk tetap bangkit.
Akh..
Sampailah aku di rumahku. Ku ketuk pintu rumah. Mama membukakan pintu. Beliau
kaget melihatku. Beliau segera menyelimutiku dan kurasakan hangatnya pelukan mamaku
itu. Air mukanya yang lembut terpancar indah penuh kasih.
Teringat di
benakku..
Saat itu aku,Vellys, aku
dan teman-teman merayakan kegembiraan setelah menerima amplop kelulusan dari SMA kami. Kami berencana merayakan
kegembiraan di salah satu villa temanku. Kami berlima menumpang mobil sedan
temanku, Rina. Di tengah jalan tiba-tiba saja sopir Rina lenggah beliau tak
tahu ternyata dari arah yang berlawanan ada truk pengangkut semen yang melaju dengan kencangnya. BRAK….!!!
“ Waaaaa,,,,,,,” Semua
yang ada dalam mobil menjerit histeris.
Kecelakaan tak dapat di
elakkan.. Saat itu Vellys yang duduk di depan terpental jauh ke semak-semak.
Semua tak sadar diri. Begitu juga Vellys ia luka parah,kepalanya terbentur batu keras.
Hingga kepalanya pecah dan terus mengeluarkan darah.
Saat ku buka
mata.. aku tengah berada di Rumah Sakit. Seorang suster cantik memandangku dan
tersenyum.. Tak berapa lama mamaku datang dan menangis. Beliau memeluk erat
tubuhku.
“Ma, Vellys mana?” Tanyaku
terisak. Mama mencoba untuk menghiburku.
“Vellys di kamar sebelah, Nak?” ujar mama
menghiburku
Keesokan
paginya aku merasa agak sembuh. Aku ingin menjenguk Vellys di kamar sebelah.
Alangkah terkejut saat seorang suster memberitahuku bahwa Vellys telah
meninggal. Oh.. Betapa aku benci pada takdir ini. Walau kepalaku masih berat,
namun kupaksakan tuk pergi ke tempat peristirahatan terakhir kekasihku. Aku
duduk bersimpuh dengan deraian air mata yang menetes lembut. Aku terus saja
meratapi kepergian Vellys yang begitu membuatku syok. Ingin rasanya aku
menyusul Vellys ke alam baka. Ah.. Betapa bodohnya aku jika aku melakukan itu.
Terlalu dalam sakit yang kini kurasa
Saat indah yang pernah kita lalui
Mungkin sirna tak berbekas
Damailah kau di sana…
Teringat pula
dalam memory otakku saat pertama kali aku bertemu dengan Vellys. Waktu itu aku
masih kelas 5 sd. Di tengah semester kelasku kedatangan seorang murid baru. Bu
Astrid,wali kelasku mengenalkan Vellys di depan kelas. Vellys kecil begitu
hitam,gendut dan berambut keriting dan ia pindahan dari Cirebon. Tiba-tiba saja
aku berkata lantang
“ Makhluk dari
planet mana,nih?”
“Gerrrr!!!!??”
Semua murid tertawa riang. Tak ku sangka cewek
gendut itu punya nyali juga.
“ Heh, klo
punya mulut dijaga donk??”
“ Sudah-sudah
Rafa hentikan!!” lerai bu Astrid.
“ Vellys,
sekarang kamu duduk di sebelah renata.” Kata bu Astrid lagi sambil berlalu
meninggalkan kelas. Semua teman-teman menertawakanku.. Dasar Vellys sialan
tunggu aja ntar pembalasanku.
Tak terasa
olehku satu tahun berlalu begitu cepat. Tak terasa kini aku sudah kelas 6 dan
bentar lagi SMP. Aku akan meninggalkan SD tercinta dan kenangan yang
menyelimutinya. Aku juga nggak nyangka Vellys musuh bebuyutanku akan kembali ke
Cirebon. Oh Vellys apa kita bisa bertemu lagi?? Hanya waktu yang mampu menjawabnya.
SMP telah
terlewati. Kini aku telah duduk di bangku SMA favorit di kota ku. Pagi hari
saat masuk sekolah, tak sengaja si Jagur ,motor kesayanganku menabrak cewek.
“Aduh.. Eh loe
punya mata gak sich?” Aku tertegun
memandang cewek itu.. Busyet.. alamak.. cantik
buangeeet cewek ini. Wajahnya elok,kulit putih mulus,sexy wuih.. wuih.. Apa ini
ya yang di namakan jatuh cintronk pada pandangan pertama..?? Sungguh ada
getaran hebat yang menyesakkan dada.
Aku tersadar dari lamunku. Aku berusaha membangunkan
cewek manis ini. Dia tak menolak uluran tanganku. Bahkan dia tersenyum padaku.
“ Aku Keisha!” katanya sambil tersenyum.
Hatiku Dag.. Dig.. Dug tak
karuan.
“ Ra.. fa..” kataku gugup.
“ Kayaknya aku belum liat kamu dech??” tanyaku lagi.
“ Em.. Aku memang siswi baru pindahan dari SMA Cirebon.”
Mendengar kata Cirebon,
aku teringat Vellys. Orang yang amat ku rindu. Cewek hitam dan gendut itu
sekarang dimana ya? Karena aku kelamaan melamun,tak ku sadari Keisha
memperhatikanku.
“ Koq bengong?!” tanyanya.
“ Ha.. Eh nggak” kataku kikuk
“ Eh, kamu tahu nggak kelas 11c?” tanyanya lagi
“ Ya tau lah? Kan kelas tetangga?! Kamu di kelas itu?”
Keisha mengangguk.
“ Ku anterin deh..” tawarku
Kami berjalan sambil ngobrol. Tak terasa kami sudah
sampai di kelas Keisha.
“ Makasih ya, Fa?” katanya seraya tersenyum
“Ehem.. ehem imbalannya??” kataku mengoda.
Cewek manis ini tak
mengerti maksudku.
“Gini lho,keish.. Aku boleh nggak minta nomor hp mu?”
Keisha hanya tersenyum. Setelah
menyebutkan nomornya, Ia masuk ke kelas barunya. Wow.. aku sueneeng banget.
Lebih bahagia daripada di kelilingi 1000 bidadari dari surga. Aku berjalan
menuju kelas sambil senyum-senyum sendiri.
Pelajaran pertama dimulai. Namun tetap saja aku masih
memikirkan Keisha, bidadariku itu. Tiba-tiba saja Bu Silvy membentakku. Aku
kaget bukan kepalang. Beliau menyuruhku lari keliling lapangan. Akh.. Berhubung
aku lagi sueneeng banget ku laksanakan perintah bu Silvy dengan riang.
Pulang sekolah ini aku sudah berencana mengantar Keisha
pulang ke rumahnya. Lama sekali aku menunggu cewek cantik itu di gerbang
sekolah, Setelah 15 menit akhirnya Keisha datang,
“ Maaf ya dah nunggu lama?”
“ Akh, gpp ug?”
“ Jadi anter kan?”
“ Jadi dong?” dengan hati
yang guiirrang banget, q nganter cwek cantik itu.
“Pegangnya yang kenceng
dong?” Dan Keisha pun menuruti perintahku.
“ Mampir dulu yuk??” ajak
Keisha setelah sampai rumahnya. Aku mengangguk,,
kebetulan
ruang tamu sedang digunakan untuk tamu lain, jadi aku disuruh Keisha ke
kamarnya, saat Keisha sedang sibuk membuatkan minum buatku, Aku tertarik pada
buku mungil berwarna biru yang ada di atas meja belajar Keisha. Tanpa sepengetahuan Keisha,aku membuka buku diary mungil
birunya yang tergeletak di meja belajar itu. Saat ku buka diary itu,mengapa
jantungku berdebar lebih cepat?Dan sungguh aku tak percaya ternyata Keisha
cewek cantik itu adalah Vellys cewek gendut,hitam,keriting musuh yang amat ku
rindu.. Ternyata nama cewek itu Vellys Akeisha. Jadi selama ini Keisha
menggunakan nama belakangnya. Sungguh aku tak percaya semua isi diary itu
tentangku. Ku baca halaman demi halaman diary itu.
Klak..
Tiba-tiba saja
pintu kamar dibuka. Keisha terperanjat dan marah sekali melihat diarynya tlah
ku buka.
“ Apa-apaan sih,Fa?” tanyanya sambil
melotot.
“ Vellys…??” tanyaku mengagetkan
Keisha. Keisha tersentak.
“ Kaukah Rafa.. musuh bebuyutanku?”
Aku mengangguk. Kami berpelukan dengan linangan air mata.
“ Ku kira kita tak bisa bertemu
lagi,fa?”
“ Maukah kau jadi pacarku,lys?”
tanyaku sambil memberi cewek cantik itu sebuah cincin yang indah. Vellys mengangguk.
Semakin hari kami semakin dekat.
Bahkan dua bulan lagi kami berencana melangsungkan pertunangan. Tepat setelah
kelulusan dan ulang tahun Vellys yang ke 18
Suatu hari saat aku ke rumah Vellys,
tiba-tiba saja ia menyuruhku membaca buku diary Ranum . Aku tak tahu apa maksud
Vellys tentang semua ini.
Apakah cinta itu telah hilang sirna tak
berbekas. Tak adakah namaku di hatimu. Aku berharap engkau yang kan mengisi
ruang diantara sela-sela jariku dan mengengam erat tangan ku selamanya. Aku
ingin engkau selalu menemani hidup dan matiku. Aku ingin kau menemani masa
tuaku
Eloknya senyummu
Raut keteduhan di wajah manismu
Yang indah menelusup ke dasar jiwaku
Kau buatku mengerti cinta
Tak
tahu mengapa
Kau
bisa membuatku tersihir olehmu
Rindu
yang menyayat jiwa
Tak
terbendung lagi
Pelangi di sorot matamu
Memancar penuh kedamaian
Kaulah Nafasku….
Salahkah aku mencintaimu?Rafa?”
Mengapa kau tercipta..
Bila hanya membuatku terluka
Mengapa kau hadir
Hanya membuat hidupku resah
Mengapa kau
hitamkan aku
Walau putih di
hatiku
Mengapa hadir
gelap
Walau terang
bermanfaat
Kau benamkan aku dalam hamparan
pasir cintaku
Dan ku tenggelam dalam kepalsuan
cintamu.
Senyum yang selalu menghiasi wajah manismu
Serasa tetesan embun di hamparan
pasir kering
Jiwaku yang gersang
Tersiram lembut oleh pesonanya
Hatiku bergetar
terguncang badai asmara
Dan getaran itu
kini menyesakkan dada
Tuhan..
Andai dia tahu
aku sangat mencintainya
Ingin ku miliki dia seutuhnya
Kau datAng disaat aku butuh
Kau mampu obati hatiku yang
patah
Senyumku
hanya untuknya
Rinduku hanya
untuknya
Cintaku tak akan
pudar untuknya
Tak sadarkah hanya kau yang
mengisi palung jiwaku Entah kapan aku kan bisa menghapus bayangmu di hatiku. Aku
tahu, cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Namun percayalah ku kan selalu
mencintaimu Rafa. Aku mohon balaslah ketulusan cintaku ini agar ku semangat
meniti hidup.”
J
Sungguh
aku amat terkejut. Serasa berhenti seluruh aliran darahku. Semua puisi indah
itu hanya untukku. Tak ku sangka ternyata Ranum sahabat vellys gadis pemurung dan amat pendiam yang patah hati karena
ditinggal menikah oleh kekasihnya itu telah lama mencintaiku dan ia yang
mengidap penyakit kanker otak kambuh saat mendengar rencana pertunanganku
dengan Vellys. Vellys menangis dan memelukku erat. Aku tahu Vellys teramat
sayang pada sahabatnya itu.
Vellys mengenggam erat tanganku dan mengajakku
ke kamar Ranum. Ia terbujur kaku di atas tempat tidurnya. Sungguh aku tak
percaya berulang kali ia menyebutkan namaku. Aku tak tahu apa yang harus aku
perbuat.
“
Fa,aku mencintaimu tapi aku juga mencintai sahabatku. Ku ikhlaskan dirimu untuk
sahabatku, Fa?” kata Vellys
“
Tapi aku mencintaimu,lys?”
“
Kalau kamu mencintaiku,kamu harus bisa melepasku, Fa? Kamulah orang yang Ranum cintai.
Hanya kamu fa yang bisa buat Ranum semangat meniti hidup.. Kamu tau kan ia mengidap penyakit
tumor otak . Pleace,Fa.Only you. Only you in she heart” Vellys terus saja
memohon kepadaku.
“
Tapi aku tak bias,lys?” kataku terus membantah. Vellys memelukku. Dia terus
memohon padaku agar aku mau mengenggam tangan Ranum. Dengan perasaan tak
menentu ku pegang tangan Ranum yang begitu dingin. Suatu keajaiban datang. Mata
Ranum terbuka. Aku tersenyum. Vellys segera memelukRanum. Di sudut matanya
keluar butiran air mata.
“ Aku mencintaimu, Ranum?” tak tahu
dari mana aku berkata seperti itu. Vellys menangis memandangku. Aku lakukan
semua itu demi kau,Lys? Sungguh aku tak tega melihat Vellys menangis. Ku peluk
dia dan ku usap air matanya.
“ Ini,cincin yang harus kau pakaikan
pada Ranum.” Katanya sambil melepas cincin yang dulu pernah kuberikan. Aku
hanya terbengong. Aku melaksanakan perintah orang yang amat ku sayang itu
dengan perasaan yang galau.
Dan akhirnya sehari lagi Vellys akan
merayakan ulang tahunnya yang ke 18, dan malam itu saat aku,Velllys dan teman
yang lain menerima amplop kelulusan kami berencana merayakan kegembiraan itu di
salah satu villa teman kami. Saat akan berangkat kecelakaan pun tak dapat di
elakkan. Vellys meninggal dalam kecelakaan itu. Saat sehari lagi ia akan
berumur 18. Ah.. Betapa malang gadis itu.
Aku tersadar dari lamunanku. Aku
melangkah menuju rumah Vellys. Di sana ku temui Ranum yang masih sedih
mengenang kepergiaan Vellys yang begitu mengagetkan. Ia membawa sebuah kado
yang dibungkus kertas berwarna biru. Aku mengandeng Ranum ke makam Vellys. Kami
menaruh kado kami di atas makam Vellys. Vellys orang yang amat ku sayang telah
kembali ke pangkuan Tuhan. Selamat tinggal Vellys cinta pertamaku. Aku kan
selalu menjaga sahabatmu.. Ku tahu kau kan selalu tersenyum. Bahagialah disana
tunggu aku….!! Kaulah bidadariku,,,??
Tiba-tiba saja Ranum pingsan “ Ra..
ranum??” aku segera memapah Ranum pulang ke rumahnya. Karena keadaan Ranum
makin parah, akhirnya keluarganya membawa Ranu kerumah sakit. Berhari-hari
Ranum tak sadarkan diri. Badanya kurus dan pucat. Dengan setia ku tunggu Ranum.
Suatu hari perlahan-lahan Ranum membuka matanya. Aku tersenyum sungguh aku
sangat bahagia karena cewek pengganti Vellys ini perlahan-lahan bisa ku cintai
dengan setulusnya.
“ Ra.. rafa? A.. ku gag kuat..
lagi?”
“ Ranum, kamu gak boleh ngomong
gitu? Kamu harus kuat? Demi cinta kita?”
“ Ta.. tapi, Fa? Q gak kuat la..gi?
a..ku.ingin menyusul Velys? See.. sel.amat..tnggal,Fa? Ku tunggu kau d..
suuurr..gaa..?”
“Ra.. ranum??????? Haruskah aku kehilangan kau
dan Vellys? Kenapa kalian tega meninggalkanku? Aku benci takdir ini..? Kenapa ada tangis dan kepedihan Bila senyum dan bahagia tercipta
…!”
Orang yang amat ku cinta.. Telah pergi dari sisiku
Tanpa tinggalkan senyum manisnya
Derai air mata mengiringi kepergianmu
Tegakah kau biarkan ku sendiri
Menapaki jalan penuh kerikil tajam
Terhempas badai.. Terguling jauh ke dasar
jurang
Saat kau pergi..
Bak pisau belati yang menyayat jiwaku
Senja berganti malam yang dingin
Gemerlap bintang tertutup kabut
Senyum tak lagi menghiasi bulan
Kini.. cahaya pilar mulai meredup
Senyumku beku menahan rindu
Hidupku hampa tanpa cintamu
Ku pandang cincin ini? Cincin yag ingin ku pakaikan pada
Vellys atau Ranum,namun sekarang mereka telah bahagia.. Harus ku pakaikan pada
siapa cincin ini? Padahal semua teman-teman ku sudah menikah. Tiba-tiba nada
Cari jodoh di HP ku berbunyi
“ Halo.. Siapa ini?”
“ Ra..fa. ni aku Allysa?” suara wanita lembut yang
sangat ku hafal.
“ A..allysa?? gimana keadaanmu sekarang? Kapan kamu ke
rumahku? Aku kangen sekali denganmu.?
“ Begitu pula aku, Fa? Secepatnya aku kan ke rumahmu?
Masih ingatkan ? sebelum kamu pindah ke Jakarta, kita biasanya manjat pohon,
mandi di kali, mancing? Pokoknya lucu banget deh?’’ Itulah Allysa gadis jawa
yang sangat manis itu memang tak pernah berubah, masih seperti dulu. Cantik,
berhati lembut dan penyayang.
Tanggal 17 Juli aku berencana menjenguk Allysa sekalian
mengutarakan maksudku siapa tahu Allysa
mau menikah denganku, seperti yang dulu kita lakukan waktu kecil? Bermain
manten-mantenan? Hehe
Di jalan aku bertemu dengan Nathan teman masa kecilku
dulu sebelum aku pindah ke Jakarta. Dulu Mama mengajakku pindah ke Jakarta hanya ingin
mengobati hatinya karena kematian papa .
“ Na.. Nathan? Mau
jagong kemana?” Nathan mengamati wajahku.
“
Siapa kamu?”
“
Hayo tebak siapa aku?”
“ Ra.. Rafa..? gila kamu men, beda banget dari dulu, dulun kecil
item ingusan, sekarang kamu ganteng banget sih? Hebat deh?!” wajah Nathan sumringah.
“ Mau.. kemana
kamu?”
“ Me..memangnya
kamu gak tahu?Allysa sekarang jadi pengantin dengan Revan ? juragan sapi? Masak
kamu gak tahu, to?” Sungguh nafasku mulai ter Sengal badanku mulai dingin tak
kurasakan lagi darah mengalir ditubuhku. Kecewa,sedih, marah bercampur dalam
hatiku. Ku kira Aku dan Allysa akan jadi manten beneran, tapi ternyata? Akh..
mungkin dia bukan jodohku? Dengan berat hati aku datang ke resepsi pernikahan
Allysa. Saat aku tiba disana, penghulu tengah membacakan ikrar sehidup semati
allysa dengan Revan. Ku lihat, Allysa memandangku dan ia menitikan butiran air
mata. Sungguh aku tak tega melihat perempuan menangis. Setelah resepsi selesai,
Allysa menemuiku.
“ Ra.. rA. Fa? Kenapa harus ada perjodohan? Aku bukan
siti Nurbaya?”
“ Aku tahu, Sya?
Betapa berat menjadi dirimu? Aku kesini ingin menjadi pengantin dengan mu
seperti masa kecil kita dulu? Mu.. mungkin kau bukan jodohku.., Sya? Jaga
suamimu baek-baek? Semoga.. kau selalu ba.. ha..gia?” Tak dapat ku tahan
buliran air mataku ini.
“ Aku..
mencintaimu, Fa? Aku yakin? Cinta itu indah.. pada waktunya?”
Aku mengangguk dan bergegas meninggalkan Alysa. Dengan hati gontai
ku segera beranjak kembali ke Jakarta dengan menaiki Jagur motor kesayanganku
ini. Karena aku terus-terusan melamun, memikirkan siapakah yang kiranya pantas
mengenakan cincin ini, tak sadar q menyerempet gadis cantik yang akan menyeberang
jalan.
“Astaghfirullah……..!!!!”
Jerit gadis itu. Segera ku tersadar dari lamunanku.
“ Ma.. mafkan
saya?” Aku mencermati wajah gadis itu? Ya Tuhan. Sungguh wajahnya mirip sekai
dengan Vellys? Dengan sigap ku bangunkan gadis itu. Dia tersenyum. Dan lagi-lagi
aku harus terkejut karena senyum gadis itu sangat mirip dengan senyum Ranum.
“ Kamu gak
apa-apa?” Tanyaku khawatir.
“ Saya gak
kenapa-kenapa?” Aku bengong, kenapa suaranya lembut dan pelan seperti suara
Allysa. Ya Tuhan ada apa ini kenapa cewek ini seperti ketiga wanita yang aku
cintai?
“ Mau aku antar
pulang?” Gadis lemah lembut itu mengangguk. Sampai di rumahnya, dia mengajakku
mampir ke rumahnya yang sanagt sempit.
“ Bunda.. bunda..
pulang?” ketiga anak kecil itu berhamburan keluar dan memeluk wanita itu. Mungkinkah ketiga gadis kecil itu anak wanita
itu.
“ Mereka.. anakku?
Ayahnya.. meninggal saat menjadi relawan di Gaza. Dan kau tahu? Kedua orang
tuaku lumpuh.. Bagaimana mungkin aku bisa melayani mereka semua, sementara aku
hanya bekerja sebagai pembantu?” Tiba-tiba wanita itu menangis. Sungguh jangan
paksa aku melihat wanita menangis di depan mataku. Andai aku bisa? Aku ingin
menghapus semua air mata wanita di dunia ini.
Dengan keputusan yang bulat, ku ingin menikah dengan wanita cantik yang
bernama Aisyah ini.
“ Aku.. ingin
menikahimu? Dan aku ingin menjadi ayah bagi anakmu,Aisyah?”
Wanita itu memandangku dan mungkin ingin mengucapkan beribu-ribu
terima kasih untukku. Kedua orangtuanya yang mendengar semua itu merangkak ke
arahku?
“ Be.. benarkah kau
kan menikahi anakku?” Aku mengangguk. Dan kedua orang yang lumpuh itu menangis
haru.Ketiga gadis kecil itu memelukku seolah-olah mengerti kalau aku yang kan
menjaga mereka. Aku mengelus rambut anak itu.
“ Siapa nama anak-anak ini , Naura?”
“ Namanya Vellys, Allysa, dan Ranum” Aku bengong. Terima kasih
Tuhan, kau telah pertemukanku dengan wanita ini dan sungguh ini takdir yang
sangat indah karena nama anak itu sama dengan wanita yang selama ini ku cintai.
Sungguh aku sangat bahagia..! Dan memang benar CINTA ITU INDAH PADA
WAKTUNYA….!!!
JBy : Ulfah
Maghfirotul hasanah J
17
juli 2010
0 Komentar