Di suatu pondok pesantren,
“ pak Haji uang dalam kotak amal masjid hilang seribu
rupiah?” ujar Marbot mushola suatu sore
“Kenapa bisa hilang? Mungkin kamu ketlisut, coba cari
dulu..?” ujar pak Haji berusaha bersikap sabar
“ Ga k ungkin pak. Saya sudah yakin betul uangnya hilang
1000.”
“ Kita harus segera menindak! Bukan karena seberapa uang
itu, tapi kasus pencurian di pondok pesatren ini tak bisa dibiarkan.”
“ Baik PAK! “
“Siapapun yang bernbuat salah harus mendapat hukuman. Kita
harus tegas dan disiplin!! Segera suruh
semua santri berkumpul di aula”
“ Baik”
Stelah semua santri berkumpul di aula.
“ Santriwan satriwati yang dirahmati Allah, Bapak Haji mengumpulka
kita di semua disini karena uang dalam kotakm amal masjid hilang?”
Semua murid berbisik, saling
tuduh menuduh dan saling curiga menyalahkan orang lain
“ Sudah jangan ribut! Sebenarnya uang yang hilang hanya 1000
rupiah, namun sebrapa pun besar uang yang di curi, tetap saja itu merupakan
perbuatan salah dan harus mendapatkan hukuman. Semua akan kami periksa.
Siapapun diantara kalian yang trebukti mengambil uang itu, maka hukuman berat
telah di depan mata!” ujar Pak salim, ketua pondok pesantren seklaigus kaki
tangan pak Haji. Semuanya terdiam , tak ada yang mau mengaku.
“ Ya sudah, sekarang kalian kembali ke kamar masing-masing.
Besok kita kaan merazia semua kamar satu persatu.”
“ Sekarang abah tanya sama kamu Yaumi, apakah kamu tahu
siapa yang kira-kira mencuri uang kotak amal masjid?”
“ Yaumi ga tahu, bah? Lagian siapa sih yang tega nyuri uang
1000 di kotak amal masjid lagi.” Ujar Yaumi berusaha menutupi sesuatu
“ Pak Haji, saya sudah menemukan siapa yang telah mencuri
uang kotak maal masjid itu?”
“ Alhamdulillah, kita harus tegas agar kejadian ini tak
berulang!”
“ Siapapun yang mencuri, kita akan tetap menghukumnya kan
Pak?”
“ Tentu...!kita tak akan pandang bulu, meskipun itu anak
presiden sekalipun!”
“ Termasuk jika itu anak pak Haji sendiri?”
“ Ya. Bahkan jika anakku yang mencuri , aku akan
menghukumnya sendiri?”
“ Emmm... sebe..benarnya yang mencuri adalah....?”
“ Saya yang mencuri kotak amal itu, Bah?” tiba-tiba Fardan
unjuk gigi
‘’ kenapa kamu mencuri uang itu? Apa selama ini uang yang
abah kasih kepada amu kurang? Mau jadi apa kamu nanati kecil-kecil udah jadi
maling? Apa selama ini abah salah mendidik kamu?’
“ Maafkan Fardan bah?
Tapi aku ga bisa cerita apapun tentang itu bah? Mohon mengertilaha bah?”
Pak haji syok berat, dia sama sekali tak menyangka jika
anaak kandungnyalah yang mencuri uang itu.
“ aku tahu kakak yang nyuri uang itu kan?Tapi tenang aja
kak, aku telah mengaku bahwa yang mencuri kotak amal itu adalah aku?” ujar
Fardan pada Yaumi
“ Ta..tapppii?”
“ Aku ga tega kalau kakak di hukum, biar aku aja yang di
hukum. Mungkin besok abah akan memukul ku di hadapan para santri?”
“ aku ga mau kau mengakui keslaahan yang bukan kau yang
melakukan! Aku yang slaha, aku yang seharusnya mendapat hukuman dari abah.”
“ aku tahu kakak ga berniat mencuri, kakak hanya berniat
meminjam kan? Kakak dah janji besok akan mengembalikan uang yang kakak curi.
Kakak juga mencuri itu karena kakak kasihan meilhat pengemis yang meminta pada
kakak?” Yaumi terdiam mendengar pegakuan polos dari adiknya itu
Tibalah saatnya Fardan menjalani
hukuman , ia dipukul oantatnya oleh abahnya sendiri sebanyak 50 kali. Fardan
tak menangis dipukul oleh abahnya, bahakan ia mengacuhkan semua santriwan
santriwati yang melihatnya mendapat hukuman, ia begitu tegar, walau banyak
santriwati yang tak tega kemudian mereka meneteskan air matanya.
“ Untung kamu masih kecil , coba kalau kamu udah akil
baligh, abah ga akan segan-segan potong tangan kamu!!”
Yaumi terisak di kamarnya, ia
smaasekali tak menyagka semuanya kan tejadi seperti ini, kini ia sadar betapa
adik kandungnya sangat sayang kepadanya. Semenjak kejadian itu, abah mulai
sakit-sakitan. Apalagi setelah kejadian yang menghebohkan itu, Fardan memilih
kabur dari rumah, ia tak ingin abahnya malu mempunyai anak seperti dirinya. Ia
sadar telah membuat abahnya sangat teramata kecewa.
“ Masak anak pak Haji nyuri kotak amal masjid. Ga sudi deh
nyekolahin anak kami di pondok itu, pak hajinya aja belum bisa mendiidk anaknya
dengan baik, apalagi anak orang lain?” Ujar sebagian orang yang tak suka dengan
pondok pesantren itu.
Karena setiap tahun mengalami
kemerosotan jumlah murid, bahkan pada tahun ajaran 1998 pun muridnya hanya
tinggal seorang saja. Akhirnya podok pesantern itupun di tutup. Melihat pondok
yang susah payah ia erjuangakan kini telah roboh dimakan usia, abahpun tak
kuat, dan akhirnya diapun meninggal dunia.
10 tahun setelah kematian abhnya, Yaumi yan kini berkuliah
di Yogyakarta kedatangan seorang lelaki dekil yang kotor dan penuh dengan debu.
“ Kenapa kamu ga
masuk?” ujar Yaumi melihat ternyata adiknya yang datang ke kost nya
“ lihat penampilanku sekarang? Apa kata teman-teman kakak
melihat akun yang seperti ini?”
“ maksud kamu?”
“ Lihat kau sangat kumal, dekilo dan hitam. Mana percaya
mereka jika aku mengatakan bahwa aku ini adalah adikmu?”
“ Aku ga peduli apapun yang orang katakan kepadaku, namun
bagaimana pun juga kau adalh adikku.. yang selama ini aku tunggu.. tunggu..?”
“Tangan kamu kasar sekali.dik.?”
“ Iya kak, di papua aku menjadi tukang batu? Aku merantau,
agar kakak bisa bersekolah lebh tinggi? Aku berusaha mengubur cita-citaku
supaya kkak bisa meraih cita-cita kakak?” air mata Yaumi jatuh berderai.
“ Ja..jadi.. uang jerih payahmu memecah batu kau kirimkan
kepadaku utnuk membiayai kuliahku?” Yaumi mennagis haru...
“ Tak apalah, asal kakak bisa merasakan bangku sekolah. Aku
tak ingin mengecewakan kakak? aku ingi n kakak menjadi dokter agar kakak bisa
mnyembuhkan umi?”
“ kakak janji akan menjadi dokter sesuai kemauan abah.”
Seminggu setelah kedatangan adiknya, Yaumi berkunjung ke
rumah umi nya,
“ umi ga tahu siapa yang selama ini rutin setiap bulan
memberikan uang kepada umi. Yang begitu baik menyishkan sebagian gajinya untuk
kehidupan umi. Apakah yang memberi uang kepada umi selama ini adalah kamu,
Yaumi?”
“ Tidak umi. Maafkan Yaumi umi, yaumi belum bisa memberikan
apa yang umi inginkan.. mungkin saja yang memberi uang setiap bulan itu adalah
Fardan?”
“ Mana mau dia seperti itu, bahkan 10 tahun dia tak pernah
membesuk umi. Tak tahukah dia bahwa uminya yang renta ini sangat merindukannya.
Apa sekarang dia sudah sukses dan nggak mau menganggap kalau umi ini ibu kandungnya?”
“ Astaghfirullah umi, kenapa umi selalu su’udzon kepadaku.
Sebenarnya akulah yang mengirim uang setiap bulan untuk umi. Walaupun umi tak
tahu, tapi nsetiapa hari aku selalu berdoa untuk kesehatan umi dan kebahagiaan
kak Yaumi?” Fardan ternyata telah bearada di depan pintu kamar umi.
“ Fardan...?” mata Umi kultsum terbelalak, melihat betapa
kurus kering anak lelaki yang sangat ia rindukan itu. Usia Fardan terlihat
lebih tua jika dibandingkan dengan usia sebenarnya, mungkin ia banyak memikul
beban berat, sampai tak bisa mengurus badannya sendiri. Fardan pun segera
memeluk hangatnya pelukan uminya. Dia sangat rindu dengan umi nya itu.
“ Kenapa kamu baru pulang sekarang ? tak rindukah kau dengan
umi mu yang mulai renta ini?”
“ jika kau berhenti bekerja, berarti aku ga bisa mengirim
uang kepada umi.”
“ Yaumi mau jujur sama umi, sebenarnya Yaumi lah yang
mengambi uang 1000 di kotak amal masjid umi, bukan Fardan! Aku sebenarnya ga
berniat mencuri kok, aku Cuma pingin pinjam, karena aku melihat nenek tua meminta
kepadaku, tapi waktu itu aku tak punya uang. Aku kasihan umi..?”
“ MasyaAllah... tapi kenapa Fardan yang bertanggung jawab
atas perbuatan yang tidak iia lakukan?”
“aku tak ingin melihat kakakku merintih kesakitan karena di
hukum abah! Biar aku sjaa yang dihukum. Aku kan lelaki. Kata umi kan, lelaki
harus kuat ga boleh lemah, iya kan?”
Umi Kultsum sangat bangga kepada anak lelaki nya itu. Ia pun
memeluk Fardan dengan erat.
1 tahun kemudian, Yaumi menikah dengan seorang pengusaha
kaya yang etrnyata pemilik perusahaan tempat Fardan bekerja.
“ Kamu mau ga jadid mandor aja, aku kasian melihat kamu capek
kerja setiapa hari hanya emecah batu. Lagian saya kan kini sudah menjadi suami
dari kakak kamu?”
Dengan halus Fardan
menolaknya, ia nerasa drinya belum layak menjadi mandor. Ia sadar dirinya tidak
terlalu pin6tar,ia masih sering menggunakan kekuatan tenaga daripada kekuatan
pikiran.
Adikku, aku sangat bangga kepadamu....
2
Juni 13


0 Komentar