Desaku

                                                      10 tahun kedepan
                                                                                Oleh: Ulfah Maghfirotul H
Entah seperti apa wajah desaku ini sepuluh tahun kedepan?
Dulu saat masih kecil aku terbiasa main gobak sodor, pencokan, boy, kasti, lumpatan dan aneka permainan tradisional lainnya, namun entah kenapa mungkin karena sekarang pemikiran maju ( modern) permainan-permainan  itu mulai terkikis satu persatu, mungkin anak kecil sekarang lebih senang main HP dan asyik bikin status galau di akun Facebooknya.
Atau mungkin karena lahan desa yang semakin hari kian menyempit, saat aku berusia 9 tahunan masih banyak kudapati rumah warga pancot yang mempunyai pekarangan tanah, namun sekarang tanah yang dulu kita bermain perlahan berubah menjadi rumah-rumah kecil nan  minimalis? Sekarang rumah yang mempunyai pekarangan bisa dihitung dengan jari.
Dulu anak-anak kecil satu desa berkumpul menjadi satu saat TPA, tak ada yang menyekat antara satu sama lain, namun entah kenapa sekarang dibagi menjadi dua? Aku tak tahu.. mungkin itu persoalan orang dewasa yang sampai sekarang tak ku mengerti. Dulu saat lebaran, semua warga pancot tumplek blek melaksanakan sholat di tempat yang sama, imam sama, namun entah kenapa tak kudapati lagi hal seperti itu, kenapa masyarakat yang berasal dari satu leluhur harus terkotak-kotak. Bukankah kita sama? Sama-sama warga pancot, tak adakah yang dapat kita banggakan lagi, sudah terkikiskah rasa kebersamaan kita?
Kenapa ya? Anak muda jaman sekarang lebih senang bermesraan lama dengan HP maupun gadgetnya daripada bersosialisasi atau sekedar berbincang-bincang dengan temannya, inikah dampak globalisasi, kecenderungan manusia untuk berpikir lebih individualis. Tak pernah memikirkan  bagaimana keadaan desanya yang tercinta ini 10 tahun kedepan!
Tak kudapati lagi setiap sore anak-anak berkumpul untuk umpok-umpok , mereka sekarang lebih asyik nonton drama korea daripada bercanda dengan tetangga kiri kanannya. Jika begini terus, mungkin 10 tahun kedepan kita ga akan mengenal siapa tetangga kita, bahkan mungkin jika tetangga kita sakitpun kita tak dapat membantunya? Padahal saudara terdekat kita adalah tetangga.. Seperti ittukah desaku yang akan datang?
Sebenarnya kita mengalami kemajuan atau kemunduran??
Pintar, kaya dan sukses namun jika hanya untuk kepentingan mereka sendiri untuk apa? Tak ada upaya untuk membuat desanya menjadi lebih baik lagi? Lalu untuk apa kepandaianmu itu?? Apakah hanya untuk mencari gelar hormat, agar dipandang mentereng oleh orang lain??
Sudah hilangkah rasa kekeluargaan, kesederhanan dan kesahajaan yang dulu begtu diagung-agungkan.. tergantiikan oleh sikap  materialistis dan individualis .. entahlah

Sebenarnya kita megalami kemajuan atau kemunduran ya???

0 Komentar