Pancotku,
Pancotmu, Pancot Kita
Oleh
: Ulfah Maghfirotul H
Tanah
kelahiranku bukanlah sebuah gemerlap kota yang terang disaat lembayung senja
menghilang
Tanah kelahiranku
bukan lah daerah yang selalu bermekaran bungan sakura saat musim semi
Tanah
kelahiranku bukanlah bentangan samudra yang menyejukkan
Mungkin tak kudapati rumah megah kokoh bak istana di cerita dongeng
Mungkin tak kudapati suara deburan ombak yang menyapu pasir
Mungkin tak kudapati suara riuh motor sepanjang hari
Namun aku bangga
akan semua itu.. aku merasa bahagia dengan kesederhanaan dan kekeluargaan warga
pancot. Guyub rukun saling membaur satu sama lain..
Seberapapun
bagus tempat kita tinggal sekarang, seberapa banyak uang yang kita miliki, tak
bisa menggantikan rasa kerinduan ini kepada desa pancot tercinta,,
Wajah-wajah
polos nan lugu orang pancot , senyuman ramah dan sapaan hangat mereka, sangat
kurindukan, disini tak ku dapati semua itu,, disini yang kudapati hanya
orang-orang yang berlomba-lomba mengejar kekayaan dunia tanpa peduli lagi jika
kita masih punya kehidupan akhirat yang kekal..
Tak ada orang
yang subuh pergi ke sawah atau sekedar mencari rumput untuk ternaknya. Aku
kangen kesahajaan warga pancot yang tak pernah merasa kaya walaupun berada
Desaku
memberikanku inspirasi untuk terus menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu
bersahaja..
Tak perlu harta yang berlimpah, cukup senyum yang tulus telah membuatku
untuk selalu merindukanmu
Tak perlu rumah yang megah dan gemerlap bak istana, cukuplah tanah yang
subur dan menentramkan bila dipandang selalu terbayang dalam benakku
Tak perlu jabatan yang mentereng, cukuplah kesahajaan dan kedamaian yang kurasakan..
dan semua itu kudapatkan di pancotku
Entah mengapa
aku merasa damai di pancot, Desa yang selalu kurindukan, kuimpikan dan
kubanggakan
Disanalah aku
mengukir lembaran sejarah hidupku.
Walau terkadang ada kerikil-kerikil kecil yang menerpa, walau terkadang
perbedaan pendapat sedikit mengoyahkan kerukunan, walAu terkadang tak bisa
dipaksakan satu pemikiran, namun apapun yang terjadi, kan tetap terjadi.. desa
pancotku selalu membawa kenangan.
Jika sudah berada disini, seolah-olah kita tak mau waktu beranjak pergi.
Kita ingin selalu menikmati dinginnya angin yang membelai lembut kulit. Hawa
sejuk khas pegunungan , yang membuatku malas beranjak dari selimut tebal,
celoteh ramah penduduk yang menggambarkan kehangatan, Oh, betapa semua itu tak
kudapati ditempat lain.
Sekarang aku tahu bangaimana perasaan orang yang jauh dari pancot
(merantau), saat lebaran mereka berbondong-bondong pulang ke kampung halaman
tercinta, tak peduli berapa uang yang harus mereka keluarkan tak peduli seberapa
lelah mereka diperjalanan, karena pAncot yang damai dan tenteram telah
terbayang-bayang dipelupuk mata mereka.
Saat berkunjung ke pancot, banyak temanku yang terheran-heran kenapa di
pancot jalannya sempit sekali, dan rumahnya berdesak-desakan.
Itulah kami, walaupun seberapa sukses kami diperantauan tapi kami ingin
tetap tinggal dan membangun rumah di pancot, karena disanalah tempat kelahiran
kami, tempat kami belajar banyak tentang arti kehidupan, tempat kami mengukir
sejarah.
Pancot.. Pancot.. terlalu banyak kenangan antara Aku, Kamu dan Kita...
Pancotku,
Pancotmu, Pancot kita
NB:
Maaf lagi belajar nulis, mohon bimbingannya? Harap maklum

0 Komentar