“
Bentar lagi lomba menyanyi akan dilaksanakan!” ujar Teman BIta
“
Tenang Bit, kita akan mendukungmu selaluuuuu semangattt!!!”
“
eM, terima kasih teman-teman kalian selalu mendukungku!”
Sesampainya
di rumah
“
Yah, benatr lagi aku ada lomba menyanyi, apa ayah bisa datang mendukungku!”
“
Aduh Bita! Kamu ga pernah ngerti sih? Ayah kan sibuk! Ga ada waktu untuk ha l sepele
seperi itu !”
“
Tapi ayah, hanya sebentar saja? Bita mohon 1 jam saja? Kehadiran ayah sangat
berarti bagiku?”
“
Untuk apa? mElihat kau menyanyi sangat membosankan! Apa artinya kehadiranku.
Kamu kan yang menyanyi,,,?”
Bita
terdiam, menangis di kamarnya.
Suatu
sore saat ayah Bita tengah sibuk mengetik, dataglah Bita
“
Ayah, berapa gaji ayah dalam 1 jam.?”
“
Kenapa kau tanya seperti itu?”
“
Katakanlah saja ayah??”
“
Gaji ayah 1 jam 3.000.000 emang kenapa?”
“
Tak apa-apa!”
Keesokan
harinya, Bita ketahuan mencuri di sebuah mall, Di mall itu terjadi percecokan
antara ayah dan Bita.
“ Dasar Maling! Setiap hari ayah kerja cari
uang untuk siapa? Untuk kamu!!!! Ayah banting tulang bekerja keras agar kamu
bahagia! Tapi apa balasanmu? Kamu bikin malu ayah!”
“
Ayah pikir aku bahagia dengan semua harta yang ayah berikan? Ayah salah besar!!”
“ Berani kamu membantah ayah!!
“
Ayah tak pernah peduli semua tentangku semenjak kecil aku merasa sendiri, tak
ada seorangpun di dunia ini yang mempedulikan aku! Aku masih punya hati. Aku tak pernah tahu apa itu
cinta apa itu kasih sayang. Yang selama ini aku tahu hanya kebencian dan
kata-kata kasar yang aku tiru dari ayah! Aku pengen ngobrol dan belajar pada
ayah, tapi ayah tak pernah ada waktu untuk mendengarkan kata-kataku! “
“
Karena ayah sibuk mencari uang untuk kamu!”
“
Aku ga ingin semua uang ayah, aku hanya ingin perlindungan dari satu-satunya
orang yang ku miliki di dunia ini, tak bisakah ayah sekali saja bilang “ Bita,
ayah sayang kamu, I love you? Aku pengin mendengar itu, namun sampai sekarang
semua itu hanya menjadi mimpiku!” Bita
melanjutkan
“kelas
1 sd, waktu piknik sekolah . Aku salah menaiki bis. Aku tersesat dalam
keterasingan. Untunglah ada seorang lelaki baik yang mengantarkan aku pulang.
Namun setibanya di rumah, ayah malah memarahi lelaki tadi dan menghajarnya.
Tanpa mendengar penjelasannya. Tak luput aku pun juga ditampar oleh ayah, aku
masih ingat sekali pembicaraan ayah waktu itu “ Dasar anak Babi ! bodohnya kamu
mau saja diantar oleh lelaki tidak dikenal! Bagaimana kalau kamu di perkosa
hah?” namun belum sempat aku menceritakan kejadian itu, lagi-lagi ayah
menamparku! Aku bingung? Aku menangis di kamar sendirian, mengadu kepada siapa
lagi?”
Melihat
ayahnya terdiam, bita melanjutkan lagi
“Waktu
aku kelas 2, aku belum bisa membaca dan menulis seperti kebanyakan teman-temanku.
Aku menyuruh temanku yang paling pandai untuk menuliskan surat untuk ayahku,
namun aku menyalinnya. Aku berusaha keras , 101 lembar surat yang ku tulis
untuk ayah, namun ayah bahkan tak penah membaca surat dariku, aku kecewa dengan
sikap ayah yang tak pernah peduli padaku!”
Ayah
BiTa teringat surat itu, padahal ayah Bita membuang surat itu,
“Aku
mengumpulkan uang, aku jual semua boneka Barbie kesayanganku. Aku bongkar celenganku yang
sudah satu tahun ini menyimpan rapi uang recehku. Aku bahkan seminggu tak
jajan, semua uang yang aku kumpulkan hanya untuk membelikan sebuah kado untuk
ayah, aku berpikir uangku cukup untuk membeli mobil, tapi anggapanku salah. Aku
hanya mampu membelikan ayahku sebuah laptop murahan untuk kado ulang tahun. Ku
kira dia akan bangga, namun anggapan ku salah besar! Ayah malah berkata “ Dari
mana kamu mendapat kan laptop ini? Kamu pasti mencuri uang ayah?!” lalu ayah
membanting laptop yang susah payah ku dapatkan!!! Semenjak kejadian itu, aku
dan ayah tak pernah berbicara sepatah kata pun. Walaupun hanya dua manusia yang
berada di rumah sebesar lapangan sepak bola ini. “
“
Aku hanya ingin membeli satu jam waktu ayah, tak bisakah kita habiskan satu jam
saja kamu dan aku…… Aku ingin membeli waktumu. Tapi itu sangat mahal bagiku.
Semua celenganku sudah aku bongkar, aku bahkan menjual semua boneka Barbie ku
untuk membelikan ayah laptop, tapi ayah malah membanting laptop tadi. Aku bukan
robot. Aku masih punya perasaan. Tiada hal lain yang bisa kulakukan, dan harapan
terakhirku, Makanya aku mencuri…???”
Mendengar
penuturan Bita tadi, ayahnya termenung mengenang semua kesalahan yang telah
dibuat pada anaknya. Ia menangis di hadapan Bita
Tiba-tiba
polisi datang,
“
Pak polisi saya yang mencuri uang itu!” ujar Ayah Bita
“
Bukan pak tapi saya yang mencurinya!”
“
Bukan pak tapi saya!! Saya mohon pak,
jangan tangkap anak saya” ujar Ayah Bita seraya bersujud di hadapan polisi.
“
Baik lah anda saya tangkap! Mari ikut ke kantor polisi!”
“
Ayyyaaaaaahhhhhhhhh……………”
9
juni 2012
0 Komentar