Ardha dengan Rangga sudah
bersahabat sejak SD hingga sekarang mereka duduk di bangku kelas 2 SMA.
Walaupun bersahabat, tetapi mererka memiliki perbedaan yang cukup signifikan,
Ardha cowok Putih, cool, Macho, popeuler
dengan tinggi badan 180 yang membuatnya semakin menarik di hati wanita
manapun dan tentu saja Ardha terlahir dari kalangan tengah ke atas. Sedangkan Rangga
pria hitam dekil, semua giginya gingsul hehe dengan rambut keriting hidung
besar pokoknya kalian bayangin orang negro aja deh, pasti mirip ma Rangga.
“
Ardha, walaupun kita berteman kok beda banget ya muka kita?” Tanya Rangga iseng
“
Mungkin waktu pembagian wajah ganteng kamu ga datang jadi ya tinggal sisanya
aja.” Jawab Ardha mangkel melihat sobatnya ga terima semua karunia tuhan itu.
“
huh, zialan kamu!”
Beratus-ratus
cewek mengantri untuk menjadi pacar Ardha.
Namun tampaknya Ardha cuek bebek ma mereka. Ardha terlalu memendam rapi
perasaan cintanya.
` “ Ardha, pulang bareng yuk?” ajak Cantika, cewek tercantik
se………… pikir aja sendiri
“
Aku ma Rangga. Kamu ga liat!” jawab Ardha ketus.
“
sama aku aja, cantika?” tawar Rangga
“
Huh, ga sudi!!!! Pulang bareng memedi gitu” Ardha tersenyum melihat nasib
tragis sobatnya itu
“
Huh, kenapa tiada wanita yang ingin bersamaku, oh apakah salah diri ku?”
“
Udahlah, terima nasib aja!”
Baru melangkah 2 kaki,
“
Ardha ni ada cokelat buat kamu?” kali ini giliran Mei cewek Chinese yang sudah
tergila-gila lama sama Ardha nyamperin.
“
Aku ga suka cokelat!” bentak Ardha seraya melempar cokelat tadi
“
Tenanglah dinda, kanda akan makan cokelat ini kok?” giliran Rangga yang menimpali
“
Ogah banget!! Mending di buang daripada kamu makan!” Mei pergi
“
Why? Apakah yang salah dengan cewek-cewek itu?Jangan-jangan….”
“
Jangan-jangan apa?” Tanya Ardha tak mengerti
“
Kamu suka ya sama aku! Iiihhhhh ogah!” seru Rangga ngaco
“
ngawur kamu ! Aku ga suka wanita yang nyakitin sobatku!”
“
You’re my best friend!” ucap Rangga sembari menepuk pundak Ardha
“Emang
kamu tahu artinya?”
“
Ya……. Enggaklah mungkin artinya Rangga ganteng gitu!”
“
Haha ngaco deh kamu!”
Tiap detik Handphone
Ardha bergetar, selalu nomor yang baru. Ardha tahu itu dari cewek-cewek
penggemarnya, namun sayang ARdha acuh. Di Handphonenya hanya ada nama Rangga
dan seorang wanita teman sekelasnya, namanya : Mutia. Namun anehnya sampai
sekarang Ardha tak berani sms ataupun telepon duluan ma wanita itu.
Ardha kamu
lagi apa?
Ardha dah maem
lom?
“ CUIIHH” muak Ardha
melihat sms lebay dari cewek-cewek ganjen itu.
“ Andai saja Mutia
yang kirim sms ke aku, bahagia deh rasanya hatiku.” Batin Ardha.
Di sekolah
“ Rangga aku boleh
pinjam catatan fisika kamu gak?” Mutia menghampiri Rangga namun, kenapa ya
Ardha yang deg-degan gitu!
“ Maaf Mutia kamu
kan tahu, tulisanku aja kayak ceker ayam gitu, mana bisa kamu baca tulisan ku!
Mending kamu pinjem catetan Ardha aja, walaupun jarang nyatet tapi catetannya
rapi kok!” timpal Rangga
“ Oh gitu ya? Ardha
boleh aku pinjam catatanmu?” Ardha memberikan bukunya dengan perasaan tak
menentu kayaknya ada SESUATU di hatinya.
Setelah kejadian
itu, Mutia dekat dengan Rangga. Dan setelah 3 bulan PDKT akhirnya ada juga yang
mau jadi pacar Rangga, setelah sekian tahun tak ada satupun cecwek yang sudi
melihat Rangga, hehe
Kini Mutia, Ardha
dan Rangga selalu jalan bertiga
“ Akhirnya aku puny a
pacar juga yang bisa mencintaiku apa adanya. Dan kalian tahu, akhirnya aku
terbebas juga dari isu-isu yng menyebut aku dan Ardha homo.. Ihhh!”
“ Hahaha! Setelah
sekian tahun kamu menunggu akhirnya ada juga yang mau sama kamu! Haha?” canda
Ardha
Ketiganya melakukan
touring menuju sebuah pantai di Jogja
“ Andai saja aku di
bonceng Ardha, alangkah indahnya hariku?” batin Mutia
Saat ketiganya asyik
bemain pasir di pantai dan merasakan indahnya matahari yang perlahan tenggelam,
karena tak berhati-hati, Mutia terpeleset hingga ia tak bisa berjalan, terpaksa
Rangga mengendong Mutia
“ Aku juga ingin
mutia jku gendong di punggungku!” batin Ardha
Setelah sampai di
sebuah kedai warung makan,
“ Kalian tunggu
disini aku akan cari makan!” seru Rangga
Mutia dan Ardha
terdiam, menikmati lamunan masing-masing namun akhrnya Mutia memulai topic
pembicaraan.
“ Ardha, ada sesuatu yang ingin
kusampaikan padamu. Sekian lama aku jadian dengan Rangga, kamu tahu?” Ardha
menoleh ke arah Mutia
“
Iya! Ku pikir Rangga sangat
mencintaimu!”
“
Tapi ia salah! Se.. sebe. Narnya aku menyukai kamu Ardha! Semenjak kelas 1 aku
sudah mulai tertarik ma kamu! Aku tahu kamu banyak yang suka, maka dari itu aku
jadian ma Rangga supaya aku bisa dekat dengan kamu! Aku mencintai kamu Ardha,
tak pernah sebiji sawipun rasa cintaku pada Rangga?”
“
Tapi caramu salah, Mutia! Kamu sadar kau telah membuat hati Rangga remuk”
“
Aku tahu, tapi hanya cara ini yang bisa kulakukan untuk dekat dengan kamu!”
“ Sebenarnya sudah sejak kelas 1
pula aku diam-diam menaruh hati padamu, Mutia. Kau berbeda dari kebanyakan
wanita. Kau sungguh baik dan lembut. Dan yang terpenting, wajahmu…. Mirip
sekali dengan ibuku, aku pulalah yang selalu menelpon pun dengan nomor privat,
aku terlalu gugup untuk berbicara langsung denganmu. Namun kini, kau menjadi
milik Rangga! Aku tak ingin mengecewakan sahabatku, aku lebih menyayangi
sahabatku daripada diriku sendiri.”
Mutia menangis mendengar jawaban
dari Ardha. Namun tiba-tiba Rangga datang
“
Ini yang kau namakan sahabat, Ardha ternyata di belakangku kau dekati pacarku.
Mutia satu-satunya yang bisa menerima aku! Setiap cewek yang aku sukai,
ternyata mereka suka sama kamu! Dan sekarang kau rebut pula belahan hatiku!
Hah!”
“
Rangga, aku bisa jelasin semuanya! Ini hanya salah paham!”
“
Sudahlah, aku memang tak pantas untuk di cintai siapa pun!”
“
Rangga, bukan begitu, walaupun Mutia ternyata mendekati mu hanya untuk dekat
denganku, namun aku tak ingin memilikinya, walaupun aku mencintainya! Aku
mengorbankan perasaan ku hanya untukmu sobat! Aku tak ingin persahabatan kita
hancur samapi disini, aku ingin sellau menjadi sahabat terbaik yang kau
miliki!”
“
Be.. Benarkah?” Ardha mengangguk, Mutia menangis mendengar jawaban Ardha yang
begitu tulus melepasnya. Lalu Ardha meninggalkan Mutia dan Rangga.
“
Mutia, aku berjanji akan membuat kau jatuh cinta padaku, percayalah aku kan
bahagia kanmu hingga ajal menjemputku!” ucap Rangga mantap
“
Kalian harus bahagia, aku harus bisa merelakan dua orang yang amat aku sayangi
kan selalu bahagia,, maafkan aku Mutia! Aku yang masih mencintaimu namun kau
harus rela melepaskan mu!” Ardha berjalan perlahan meninggalkan mereka berdua.
Dengan langkah gontai
26
March , 2012
0 Komentar