Terik sinar mentari Yogya belakangan ini tak menyurutkan semangat 45 ku,
untuk bergegas menuju stasiun lempuyangan. Sudah tak sabar rasanya pengin
segera mudik ke kampung halaman, organisasi dan tugas yang berjubel sungguh
memenatkan pikirku. Ah.. sudah tiga bulan aku tak bertemu dengan kedua orangtua
ku, sudah terbayang wajah orangtua ku yang mulai bergaris-garis menandakan
umurnya yang tak muda lagi. Orang tua ku yang berjuang agar aku bisa bersekolah
di universitas jogja ini.
Setelah membeli tiket akupun segera duduk di kereta, kupandangi
sekelilingku, Kemajuan teknologi membuat manusia-manusia sekarang menjadi
generasi “ nunduk” alias bermain dengan smartphone nya masing-masing, tak ada
perbincangan dan tegur sapa seolah-olah manusia sekeliling hanyalah patung yang
tidak penting, padahal sungguh dunia maya itu hanyalah sandiwara kepalsuan. Manusia
berpura-pura menjadi kupu-kupu walaupun sebenarnya mereka ulat bulu yang
menjijikkan.
Bosan memandang berjubel manusia dengan berbagai karakteristik dan
kamuflasenya, aku pun melemparkan pandang ke arah jendela melihat betapa besar
karunia Allah yang dititipkan di negaraku ini.
“ Bruk” semua
mata tertuju ke arah sumber suara. Terlihat wanita yang tua namun masih terlihat modis
terjatuh.
“ kenapa?” tanya
ku pada orang yang duduk di sebelahku.
“ Ga tau!”
jawabnya singkat dan kembali memainkan gadgetnya
“ Kasihan, ibu
itu mungkin kecapaian hingga jatuh kayak
gitu” ujar sepasang muda-mudi yang mungkin sedang pacaran.
Semua orang kini gaduh berprasangka kenapa nenek tadi bisa jatuh , namun
anehnya tidak ada yang memberikan tempat duduknya kepada nenek itu, mungkin
manusia yang masih tersisa di bumi ini adalah manusia individual dan pragmatis yang
tak peduli lagi dengan lingkungan sekitarnya.
“ Silakan duduk
disini, bu” aku menoleh ke arah sumber suara, wanita bercadar dalam hati aku
bertanya , di tengah hawa panas yang menyelimuti Jogja, memakai pakaian warna
gelap, kerudung yang panjang belum lagi ditambah cadar yang menutup wajahnya
apakah orang ini tidak merasa sumug dengan
stylenya itu ditambah lagi kereta
yang penuh sesak dengan manusia dan AC kereta yang mati.
Setelah mempersilakan nenek tadi duduk wanita bercadar itu pun mengaji
dengan berdiri, satu tanganya memegang pegangan kereta sementara tangan satunya
memegang alqur’an. Jujur dalam benakku aku agak takut dengan wanita bercadar,
mungkin pikiranku sudah terkontaminasi oleh media bahwa wanita bercadar itu
teroris atau mungkin menyembunyikan wajahnya yang “ mungkin “ berjerawat. Aku
amati wanita itu, hingga tak kusadari mata kita bertemu. Aku salah tingkah. Sementara
wanita tadi memicingkan matanya yang tajam dan bergerak perlahan ke arahku.
Mati aku. Gimana ini, batinku.
“Assalammualaikum
Fafa?”
DEG jantungnya
serasa tak mau berdetak lagi, siapa dia? Kenapa dia mengetahui namaku,
jangan-jangan dia akan mencuci otakku agar aku ikut alirannya.
“ Aku Jamila?
Temen SMA mu? Kamu lupa?”
Otakku kembali me recall memori
yang tersimpan, Jamila bukankah dia temanku paling cantik di sekolahan, bukankah
dia seorang model yang bohay dan jadi
incaran kaum adam satu sekolah. Benarkah dia Jamila? Otakku masih menduga-duga,
dia mengajakku salaman dan “ Aha” itu ada tahi lalat di jari kelingkingnya,
benar dia Jamila.
“ Pakaianmu
sekarang?” ujarku memperhatikan Jamila
dari ujung kepala hingga kaki, semuanya tertutup rapat.
“ Terima kasih
ya, Fa . berkat kamu waktu SMA sering nasehati aku agar berjilbab dan sekarang
alhamdulillah aku mendapat hidayah”
“ Iya,
sama-sama” ujarku menahan muka merah karena malu. Sungguh aku malu , aku yang
dikenal alim dulu SMA pun tidak serapat Jamila dalam menutup aurat. Maafkan aku
ya Allah tenyata aku masih munafik, bisa menasehati orang lain namun aku belum
bisa menjadi kupu-kupu.
0 Komentar